The depressed side of me

/
0 Comments


I’m crying. I need help.
I don’t want to do this anymore.
I am tired of myself.
I am tired of living.
I am tired of everything.

It’s that night all over again.
Malam dimana gw berkelut dalam kesepian, tanpa ada yang bisa diajak berbicara untuk mencurahkan isi hati yang penuh dengan keraguan dan kesedihan yang tidak dapat disampaikan dengan kata-kata ini. Kesepian ini begitu menusuk, begitu menyakitkan hati sampai-sampai melupakan dengan cara tidur melewatkan malam saja tidak bisa.

Aku merasa tidak berguna; aku merasa aku hanyalah sebuah titik di galaksi yang begitu besar, yang begitu overwhelming, begitu mind blowing. Apa peranku dalam kehidupan ini? Apa arti kehidupan aku? Apa yang harus aku lakukan agar setidaknya kematianku tidak terlewatkan dengan sia-sia? Aku begitu tersesat di perjalananku sendiri, begitu kesusahan untuk menemukan jawaban dalam semua pergelutan ini. Bahkan untuk jadi seorang teman saja aku tidak becus; bisa jadi apa lagi aku? Apakah aku hanya bisa menjadi beban?

Oh mungkin aku hanya kesepian saja. Sehingga untuk berfikir lurus saja aku tidak bisa. Aku akui, aku adalah seorang manusia yang butuh teman, butuh ada yang selalu ada untukku di kala aku sedih ataupun aku senang. Untuk itu kehadiran seorang kekasih di dalam hidupku adalah syukur terbesar yang bisa aku berikan. Tetapi, apakah dengan kehadiran dia di dalam hidupku, itu adil untuknya? Apakah aku pantas untuknya? Toh, yang bisa aku lakukan hanya berkeluh kesah, dan menuangkan semua amarah dan kesedihanku padanya. Ibaratnya sebuah kontainer kosong yang diisi dengan air, cepat atau lambat kontainer tersebut pasti akan penuh, dan semua isinya akan tumpah, dan tidak akan ada lagi tempat untuk mengisi sisanya, sedangkan sisanya itu tidak pernah habis.

Am i fair? Aku tahu aku adalah sebuah beban. Dan aku tidak ingin ada seorangpun yang merasakan atau ikut serta dalam memikul beban hidupku. Masing-masing manusia memiliki masalah sendiri, dan aku tidak ingin dia untuk memikul beban hidup sebanyak dua kali lipat karena itu sangat tidak adil baginya. Tetapi aku membutuhkannya, seperti aku membutuhkan udara untuk bertahan hidup, walau aku sudah lelah bernafas selama 20 tahun lebih, karena menurutku aku hanya menyia-nyiakan udara dan waktu untuk diriku yang tidak lebih dari sampah masyarakat ini.

Apa yang harus aku lakukan? Aku sedih, dan aku sengsara karena aku tidak bisa kabur dari realita menyakitkan ini. Aku merasa aku sangat tidak berguna, dan aku juga sudah lelah mendengar caci maki. Aku benar-benar ingin mengakhiri semua ini. Aku benar-benar merasa bahwa aku lebih baik di dunia akhirat, karena segala hal duniawi sudah membuatku lelah dan aku tidak ingin melanjutkan untuk terus hidup.

And i don’t know if this is a suicidal note, but occasionally this will happen to me. Aku ga tahu apa yang harus aku pikirkan. Aku capek.

People say it’s easy, you gotta think positive. It’s not easy. It’s easy for you to say because you had never actually felt like this, and you ain’t facing the same stuff as i do. Plus we all had different backgrounds. Mungkin keluargamu baik, tapi aku tidak punya keuntungan seperti itu. Cukup itu sendiri saja sudah menjadi 60 bahkan 70 persen dari alasanku merasakan hal seperti ini. I don’t even wanna talk about my family. I hate them all.

And no, i am not a whiner. I seldom bitch about stuffs, but deep down i always feel like this, i just never talk about it. Aku ga pernah merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya, karena setiap kali aku bahagia, jauh didalam lubuk hati aku merasa tersiksa. I don’t wanna feel like this. I want to experience a true happiness too, like any other did. I need a freedom to really feel that pure happiness. But i don’t have it.

I’m tired. Really. I need air to breathe, but at the same time, i don’t want it anymore.


You may also like

No comments: